Berbakti
terhadap kedua orang tua
- Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: "Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu." (Shahih Muslim No.4621)
Hadits ini menunjukkan berbakti kepada ibu lebih diutamakan, dengan alasan :
1. Karena beliaulah yang mengandung
Selama 9 bulan sepuluh hari ibu mengandung kita dengan susah payah, semakin besar umur kandungannya, semakin berat beban yang dikandungnya hingga menjelang kelahirannya.
2. Karena beliaulah yang melahirkan
Menjelang detik-detik kelahiran kita, ibu begitu berat membangun kepasrahan kepada Yang Kuasa untuk menyerahkan jiwa dan raga demi kehidupan kita.
Hebatnya, lebih baik nyawa beliau yang melayang demi keselamatan kita. Ini belum sepadan dengan balasan apapun yang bisa kita persembahkan.
3. Karena beliaulah yang menyusui
Belum hilang rasa sakit pasca melahirkan, beliau harus menyusui anaknya demi kelangsungan hidup anaknya. Apapun dilakukan demi kesehatan anak tersayang. Rasa sakit bila menyusui atau ketika tidak menyusui, tiada pernah dirasakan, karena terobati dengan tangis ataupun rengekan anaknya yang menurut beliau itu tandanya sang anak dalam keadaan sehat.
4. Karena beliau yang mendidik kita tanpa merasa lelah
Mendidik anak menjadi kewajiban utama seorang ibu. Mulai dari buaian atau anak dalam ayunan, pendidikan jiwa dan raga mulai dimasukkan. Bahkan Rasulullah saw menyatakan, pendidikan bathiniyah ditanamkan mulai anak dalam rahim seorang ibu. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, beliau tanamkan mulai masalah aqidah akhlak maupun disiplin ilmu lain. Semuanya itu demi kesempurnaan pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang bertujuan menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Keempat komponen tersebut lebih sempurna lagi bila didukung oleh hadirnya campur tangan dari seorang ayah. Yang bertugas sebagai penopang kehidupan rumah tangga. Kewajiban ayah yang harus mencari nafkah halal menjadi prasyarat utama demi terbentuknya seorang anak yang berakhlaqul karimah.
Karena itulah, Nabi saw bersabda : "keridlaan Allah terletak pada ridla mereka berdua".
Hanya saja, karena jarangnya kita berkomunikasi dengan ayah, membuat kita merasa lebih takut berbicara dengan ayah daripada ibu. Sehingga kedekatan kita dengan ibu secara emosional membuat diri kita lebih berani melawan beliau. Dan yang sering kita lakukan melawan perkataan beliau lewat perkataan atau sikap. Padahal, kedua perbuatan ini membuat beliau lebih sakit secara bathin yang sulit diobati daripada penyakit badan. Untuk itu, berhati-hatilah ketika kita berbicara dengan ibu kita. -
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Nabi saw. memohon izin untuk ikut berperang. Nabi saw. bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Orang itu menjawab: Ya. Nabi saw. bersabda: Maka kepada keduanyalah kamu berperang (dengan berbakti kepada mereka)." (Shahih Muslim No.4623)Berdasarkan hadits di atas, jelas bahwa berbakti kepada kedua orang tua mengalahkan amal apapun, bahkan dari perang demi aga sekalipun. Banyak orang yang sukses hidupnya di dunia, karena besarnya baktinya kepada orang tuanya . Inipun berlaku di akhirat. Namun sebaliknya, kedurhakaan kita sangat menjerumuskan kita pada lembah kenistaan di dunia maupun di akhirat.
Sebenarnya sudah banyak hikayat yang menggambarkan dan memberi pelajaran kepada kita. Contohnya : Kisah Si Malin Kundang cerita rakyat dari Indonesia, atau kisah sahabat Rasulullah saw bernama Al Qomah. Tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari semua itu.
2. Mengutamakan
kebaktian kepada kedua orang tua daripada salat sunat dan perkara sunat
lainnya
-
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seorang yang bernama Juraij sedang salat di sebuah tempat peribadatan, lalu datanglah ibunya memanggil. (Kata Humaid: Abu Rafi` pernah menerangkan kepadaku bagaimana Abu Hurairah ra. menirukan gaya ibu Juraij memanggil anaknya itu, sebagaimana yang dia dapatkan dari Rasulullah saw. yaitu dengan meletakkan tapak tangan di atas alis matanya dan mengangkat kepala ke arah Juraij untuk menyapa.) Lalu ibunya berkata: "Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!" Kebetulan perempuan itu mendapati anaknya sedang melaksanakan salat. Saat itu Juraij berkata kepada diri sendiri di tengah keraguan: "Ya Tuhan! Ibuku ataukah salatku." Kemudian Juraij memilih meneruskan salatnya. Maka pulanglah perempuan tersebut. Tidak berapa lama perempuan itu kembali lagi untuk yang kedua kali. Ia memanggil: "Hai Juraij, aku ibumu, bicaralah denganku!" Kembali Juraij bertanya kepada dirinya sendiri: "Ya Tuhan! Ibuku atau salatku." Lagi-lagi dia lebih memilih meneruskan salatnya. Karena kecewa, akhirnya perempuan itu berkata: "Ya Tuhan! Sesungguhnya Juraij ini adalah anakku, aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata dia enggan menjawabku. Ya Tuhan! Janganlah engkau mematikan dia sebelum Engkau perlihatkan kepadanya perempuan-perempuan pelacur." Dia berkata: Seandainya wanita itu memohon bencana fitnah atas diri Juraij niscaya ia akan mendapat fitnah. Suatu hari seorang penggembala kambing berteduh di tempat peribadatan Juraij. Tiba-tiba muncullah seorang perempuan dari sebuah desa kemudian berzinalah penggembala kambing itu dengannya, sehingga hamil dan melahirkan seorang anak lelaki. Ketika ditanya oleh orang-orang: "Anak dari siapakah ini?" Perempuan itu menjawab: "Anak penghuni tempat peribadatan ini." Orang-orang lalu berbondong-bondong mendatangi Juraij. Mereka membawa kapak dan linggis. Mereka berteriak-teriak memanggil Juraij dan kebetulan mereka menemukan Juraij di tengah salat. Tentu saja Juraij tidak menjawab panggilan mereka. Akhirnya mulailah mereka merobohkan tempat ibadahnya. Melihat hal itu Juraij keluar menemui mereka. Mereka bertanya kepada Juraij: "Tanyakan kepada perempuan ini!" Juraij tersenyum kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya: "Siapakah bapakmu?" Anak itu tiba-tiba menjawab:"Bapakku adalah si penggembala kambing". Mendengar jawaban anak bayi tersebut, mereka segera berkata: "Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu yang telah kami robohkan ini dengan emas dan perak. Juraij berkata: "Tidak usah. Buatlah seperti semula dari tanah". Kemudian Juraij meninggalkannya. (Shahih Muslim No.4625)Menghiraukan panggilan orang tua, terutama ibu merupakan prioritas utama daripada shalat sunnat. Jangan sampai kita membuat beliau kecewa, sehingga mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak patut beliau ucapkan. Waspadailah perasaan beliau, agar kita selamat dari maklumatnya yang dapat membuat kita sendiri celaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar